Sedih, Kisah Nenek Habibah Tinggal di Gubuk Reot dan Bocor

1628
Kondisi nenek Habibah yang ditemua wartawan di kediamanya Dusun Kramat, Desa Campa, Kecamatan Madapangga, Minggu (17/3/2013).

BIMA, Warta NTB – Menjalani kehidupan yang nyaman dan tenang tentu menjadi dambaan setiap orang. Terutama bagi mereka yang telah memasuki usia senja. Dalam kehidupannya setiap orang membutuhkan makanan dan minuman yang tercukupi. Demikan juga dengan tempat tinggal yang nyaman dan layak huni.

Namun bagi sebagian orang harapan itu tinggalah harapan, seperti  kisah pilu yang dialami nenek Habibah (80) warga RT.11/RW.02, Dusun Kramat, Desa Campa, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima.

Di usianya yang kini tak terbilang muda lagi nenek Habibah hanya tinggal sebatang kara di gubuk reot ukuran 2,5×3 meter yang hampir rubuh dengan atap genteng yang  tak teratur dan berlubang. Ia menempati gubuk tersebut sudah bertahun-tahun sejak ditinggal mati suaminya.

Saat ditemui awak media di kediamannya di Dusun Kramat, Desa Campa, Minggu (17/3/2019), nenak Habibah mengaku kondisinya saat ini serba dalam kekurangan.

Jangankan untuk memperbaiki rumah, untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari saja ia hanya mengharapkan belas kasih tetangga  yang iba melihat kondisinya karena saat ini ia tidak mampu lagi bekerja seperti dulu.

”Saya sudah tidak mampu lagi mencari uang sendiri. Sehari-hari makan hanya diberi tetangga,” ucap nenek Habibah dengan suara lirih.

Meski  kondisinya demikian, nenek ini sangat sopan. Di gubuk reot yang dihuninya dapur dan tempat tidur menjadi satu. Hanya beberapa helai pakaian yang dimiliki. Saat hujan turun, rumah bocor, air masuk lewat atap akibat genteng berlubang.

Ia mengaku tidak hanya merasakan kesepian karena tinggal sendiri, namun ia juga harus merasa kedinginan di malam hari. Apalagi, saat hujan turun, bagian atap rumah banyak yang bocor.

Sebagai wanita yang teguh, ia pun pasrahkan hidupnya pada Allah SWT karena tidak bisa berbuat apa-apa  untuk menopang kehidupnya. Terlebih, setelah terdeteksi penyakit paru-paru yang menggerogotinya sejak dua bulan terakhir.

“Dengan kondisi seperti ini saya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berdoa pada Allah agar ada dermawan yang mau membantu,” harapnya.

Tapi sangat miris, di tengah kondisi kehidupan perempuan tua miskin ini ternyata luput dari perhatian pemerintah hal ini terungkap setelah beberapa awak media mendapatkan informasi dari Miskan ketua RT setempat.

Miskan mengatakan, dari dulu nenek Habibah tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah baik berupa PKH, BPJS maupun Raskin.

“Iya benar nenek Habibah belum pernah mendapat bantuan padahal kondisinya saat ini sangat membutuhkan bantuan secara ekonomi dan kesehatan bahkan sejak  dua bulan terakhir ia mengalami batuk darah,” ungkapnya.

Miskan mengungkapkan, orang-orang yang mendapat bantuan di desanya tergolong keluarga mampu dan hanya orang-orang yang dekat dengan pejabat pemerintah desa.

“Mereka itu tergolong keluarga sangat mampu, sementara nenek Habibah ini tidak pernah tersentuh bantuan seperti PKH, BPJS, Raskin dan bantuan lain,” pungkasnya. (WR-Man)