Penanganan Covid-19 Tidak Bisa Dengan Vaksin!

388
Ilustrasi oleh detik health

Opini
Ditulis Oleh: Iin Mutmainah
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan terkait pengadaan vaksin, sudah ada rancangan peraturan presiden tentang Pengadaan vaksin dan pelaksanaan vaksinasi. Edi Suwiknyo – Bisnis.com.

Pada tanggal, 18 September 2020 – 19:15 WIB. Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). Vaksin COVID-19 buatan Indonesia yang diberi nama vaksin merah putih tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021. ANTARA FOTO – Dhemas Reviyanto.

Bisnis.com. JAKARTA – Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC- PEN) menyebut waktu kritis akan berlangsung sampai Desember 2020. Oleh karena itu, jangan sampai ada lonjakan kasus secara ekstrem sebelum proses vaksinasi.

“Critical time-nya adalah tiga bulan (sampai Desember 2020). Kita harus menjaga, jangan sampai ada lonjakan ekstrim dan kondisi tidak normal, sebelum vaksinasi mulai dilakukan,” ungkap Ketua KPC-PEN Airlangga Hartarto, Jumat (18/9/2020).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan terkait pengadaan vaksin, sudah ada rancangan peraturan presiden tentang pengadaan vaksin dan pelaksanaan vaksinasi yang akan mengatur secara lengkap proses pengadaan, pembelian dan distribusi vaksin, serta pelaksanaan vaksinasi atau pemberian imunisasi.

Penanganan covid-19 yang dilakukan pemerintah itu sangat tidak efektif dengan menghadirkan vaksin ini seharusnya penanganan dari awal pada setiap daerah yg sudah terkena wabah itu diutamakan dengan melakukan karantina total, sehingga virus ini tidak akan menyebar sampai keseluruh daerah.

Bisa kita melihat tindakan dari pemerintah yang sebelum-sebelumnya itu masyarakat masih bebas untuk berpergian, dan orang Asing masih di biarkan masuk ke Indonesia dengan mengandalkan tes rapid, hal ini membuktikan kelalaian pemerintah terhadap kondisi rakyatnya.

Pemerintah di sini abai terhadap rakyatnya karena mereka itu lebih mementingkan Pribadi dan pro terhadap para pemilik modal yakni lebih khusus orang-orang Asing, tidak memikirkan rakyatnya padahal virus ini berasal dari negara Asing.

Mari kita berpikir sejenak, bahwasanya kenapa bisa hadir pemimpin yang seperti ini, yang abai terhadap rakyatnya, yang selalu pro dengan Asing yang lebih mementingkan kepentingan pribadi dari pada kemaslahatan rakyatnya.

Perlu kita ketahui bahwasannya kita berada dalam sistem demokrasi yang merupakan anak kandung dari ideologi kapitalis, pertam: Asasnya sekuler, yaitu sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Kedua: standar kebahagiaan mereka memperbanyak materi,  bagaimana mereka mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin, sehingga wajar pemimpin kita hanya memikirkan dirinya sendiri.

Berbeda hal dengan sistem Islam memberikan penanganan agar wabah dihentikan, dengan melakukan karantina di wilayah yang terkena wabah, tidak boleh keluar sama sekali dari wilayah tersebut keamanan dan kebutuhannya ditanggung oleh pemerintah, memberikan pengobatan terbaik untuk penderita bukan vaksin kemudian tidak ada rakyat menjerit kelaparan saat wabah karena sudah di jamin oleh Khalifah. Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

Artinya, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Kita sebagai individu, ibu dan masyarakat bahwa kita harus ada ikhtiar kepada Allah SWT untuk tetap mematuhi protokol kesehatan saat ini, kita mengetahui  bagaimana sistem Islam menangani wabah dengan penanganan yang siap siaga terhadap wabah terjadi, dengan memberikan penanganan yang terbaik, di sinilah kita harus berperan aktif dalam memberikan kesadaran kepada umat dengan hadirnya sistem Islam secara Kaffah dapat menyelesaikan problem-problem yang ada di negara ini.

Allahu A’lam bisowab..