Pemkot Mataram Perkuat Komitmen Pengendalian Kasus Aids

1066

MATARAM Warta NTB — Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, terus memperkuat komitmen dalam upaya pengendalian kasus HIV/AIDS di kota ini.

Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana di Mataram, Selasa, mengatakan dengan telah ditemukannya obat pengendali virus HIV/AIDS, yang disebut ARV atau “anti retro viral”, menjadikan peringatan Hari AIDS Sedunia tahun 2017 sebagai momentum yang strategis.

“Obat ARV memungkinkan penderita penyakit yang sebelumnya selalu disebut sebagai penyakit mematikan yang tidak ada obatnya, memiliki harapan untuk dapat sembuh melalui pengobatan yang tepat secara rutin dan terus-menerus,” katanya.

Pernyataan itu disampaikan wakil wali kota dalam konferesi pers peringatan Hari AIDS Sedunia tahun 2017 tingkat Kota Mataram yang akan dilaksanakan pada Sabtu (9/12), bersama dengan jajaran Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Mataram.

Dikatakan, momentum peringatan Hari AIDS Sedunia dijadikan sebagai momentum untuk menumbuhkan kesadaran di tengah masyarakat agar dapat secara bersama-sama meningkatkan pengetahuan serta kepedulian untuk mencegah penularan HIV/AIDS.

“Selain itu, mengubah paradigma terkait HIV/AIDS sebagai penyakit yang dapat dikelola serta dapat diobati,” katanya.

Komitmen Pemerintah Kota Mataram dalam rangka pengendalian HIV/AIDS di Kota Mataram juga dilakukan di semua sektor yang memberi dukungan secara masif dan signifikan.

Di antaranya dengan mengalokasikan anggaran secara konsisten sejak tahun 2006, serta meningkatkan fasilitas penanganan HIV/AIDS di 11 puskesmas yang ada di enam kecamatan se-Kota Mataram dan di RSUD Kota Mataram.

“Ini menjadi isu yang sangat penting. Di tahun 2030 nanti kita harapkan Kota Mataram dapat mencapai target tiga zero. Zero infeksi baru, zero kematian akibat HIV/AIDS, serta zero stigma dan diskriminasi,” sebutnya.

Sementara Sekretaris KPA Kota Mataram dr Margaretha Chepas mengatakan, Kota Mataram sebagai ibu kota Provinsi NTB memiliki kasus HIV AIDS tertinggi dari seluruh kabupaten/kota di NTB.

“Secara kolektif jumlah kasus HIV/AIDS sejak tahun 2001 sampai Oktober 2017 telah ditemukan 217 kasus HIV, 207 orang penderita AIDS dan 117 orang penderita meninggal dunia,” katanya.

Ia mengatakan, penderita juga tidak lagi sebatas pada kelompok masyarakat yang memiliki gaya hidup menyimpang. Namun sudah terjadi di lintas usia, lintas profesi, bahkan di antaranya adalah ibu rumah tangga dan anak-anak.

Meski demikian, tingginya kasus HIV/AIDS yang ditemukan di Kota Mataram justru menjadi pertanda baik, sebab kasus yang terungkap memang sudah seharusnya lebih tinggi.

“Berarti lebih banyak penderita memiliki akses layanan, sehingga ke depan di tahun 2030 kasusnya turun dan fenomena gunung es yang terjadi selama ini bisa mencair,” katanya. (ant)