Pawai Rimpu Yang Akan Menggugah Dunia

3004
Cita-cita besar Bang Zul bersama segenap warga Mbojo yang tergabung dalam FOKKA adalah ingin menunjukkan kepada dunia eksistensi keanekaragaman budaya nusantara, dimana budaya Rimpu menjadi salah satu budaya yang memperkaya khasanah budaya nusantara. Foto: Bang Zul, Panflet Acara, Rimpu (repro google image)

Jakarta, Wartantb.com – Bagi seorang perantau, kerinduan pada tanah kelahiran akan menjadi bayang-bayang yang akan selalu mengiringi perjalanan hidup bersama berlalunya sang kala. Ada kenangan masa kecil. Ada kerinduan pada sanak saudara. Dan ada cinta yang ditinggalkan pada setiap potongan tradisi dan budaya tempat asal.

Bambang Soetrisno atau yang akrab disapa Bang Zul, Ketua FOKKA (Forum Komunikasi Kasabua Ade), semacam paguyuban perantau asal Bima yang berdomisili di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) memendam rindu yang mendalam pada tanah kelahiran.

Pria paroh baya ini menyimpan kegelisahan yang terpendam pada adat dan budaya Mbojo tempat ia berasal. Bang Zul merasa adat dan budaya mbojo semakin hari semakin memudar dan ditinggalkan. Kerinduan dan gelisah pun memuncak pada sebuah gagasan “gila”. Gagasan itu berupa Pawai Rimpu dan Pentas Seni Budaya Mbojo yang akan dilaksanakan pada 11 Desember 2016 di Kawasan Citra Raya, Cikupa, Tengerang, Banten.

Rimpu adalah budaya masyarakat suku Mbojo yang mendiami wilayah Kabupaten/Kota Bima dan Dompu di ujung timur Pulau Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Rimpu merupakan busana wanita Mbojo dengan cara mengenakan sarung tenunan khas Mbojo yang disebut Tembe Ngoli yang melingkari bagian kepala dan menutupi badan. Sekilas busana Rimpu tampak seperti hijab zaman sekarang.

Busana Rimpu memang bertalian dengan sejarah masuknya Islam di wilayah tersebut sekitar abad ke-17.  Perintah Islam menutup aurat bagi wanita diejawantahkan dengan Rimpu. Busana Rimpu sendiri terdiri dari dua jenis yakni, Rimpu Mpida yang menutupi seluruh bagian wajah, kecuali bagian mata. Kemudian Rimpu Colo yang masih memperlihatkan seluruh wajah. Rimpu Mpida biasanya dikenakan oleh wanita yang masih gadis. Sedangkan Rimpu Colo digunakan oleh wanita yang telah menikah.

“Acara akan dimulai pukul 07.00 Wita. Prosesi pawai akan melibatkan 3000 orang peserta Rimpu. Peserta sendiri terdiri dari warga Mbojo yang berdomisi di Jabodetabek juga melibatkan partisipasi dari masyarakat umum, sebab pada saat bersamaan di lokasi berlangsung car freeday,” tutur Bang Zul.

Menurut Bang Zul, jika tak ada aral yang melintang beberapa tokoh yang diundang telah memastikan akan hadir antara lain Rieke Diah Pitaloka, Inggrid Kansil, Bupati Tangerang dan juga Gubernur Banten. Tak ketinggalan Wahiddin salah satu calon Gubernur Banten pun akan turut memeriahkan perhelatan budaya Mbojo ini. Bebrapa tokoh daerah maupun perwakilan pemerintahan NTB masih dalam konfirmasi untuk turut serta.

Selain pawai Rimpu, di lokasi juga akan dipentaskan beragam kesenian Mbojo berupa tari-tarian seperti Ntumbu Tuta, Buja Kadanda, Sere, Gantao dan Gambo. Acara akan semakin semarak dengan adanya bazar makanan khas Mbojo serta bazar kain dan pakaian khas Mbojo.

Apresiasi dari pemerintah NTB yang diberikan berupa dukungan terhadap beberapa alat musik tradisional berikut pemainnya. Semua itu berasal dari anjungan NTB yang ada di Taman Mini Indonesia Indah. Bahkan nanti kesenian Sasak dan Samawa yang berasal dari anjungan NTB akan turut memeriahkan acara pawai Rimpu.

Cita-cita besar Bang Zul bersama segenap warga Mbojo yang tergabung dalam FOKKA adalah ingin menunjukkan kepada dunia eksistensi keanekaragaman budaya nusantara, dimana budaya Rimpu menjadi salah satu budaya yang memperkaya khasanah budaya nusantara.

Seiring dengan gerakan kebudayaan ini, sesungguhnya ada sendi-sendi perekonomian yang ingin diperkuat oleh Bang Zul dan segenap pegiat FOKKA. Memperkenalkan kain tenunan khas Mbojo kepada dunia adalah satu rangkaian ikhtiar sebagai bentuk pemberdayaan para pengrajin tradisionan di daerah. Bang Zul menginginkan kaum wanita dan ibu-ibu penenun yang menghasilkan kain berkualitas selama ini, merasakan manfaat dari setiap helai maha karya yang dihasilkan.

“Tak ada rasa lelah. Tak ada kata menyerah. Semua ini kami lakukan untuk mengobati kerinduan kami pada kampung halaman. Semua ikhtiar ini kami persembahkan sebagai wujud kecintaan kami pada adat dan tradisi Mbojo sebagai bagian dari budaya nusantara. Kami berharap, kelak generasi muda bisa lebih mencintai dan menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap tradisi budaya. Generasi muda semkin sadar bahwa keanekaragaman adalah karunia terindah dari Sang Pencipta,” pungkas Bang Zul mengahiri obrolan dengan wartantb. (Kaddafi, Debby dan tim)