Pawai Ogoh-Ogoh di Lombok Barat Mengambil Tema Toleransi Kebhinnekaan

1883
Pawai Ogoh-ogoh di Lombok Barat, di samping bermakna spiritual bagi umat yang meyakininya, juga menjadi potret keberagaman masyarakat yang indah. Keindahan tersebut kemudian menitiskan pesan damai dalam toleransi dan semangat untuk membangun Lombok Barat secara bersama-sama oleh lintas umat beragama.

Giri Menang, Wartantb.com – Di Kabupaten Lombok Barat, Senin (27/3/20170 pawai Ogoh-ogoh diselenggarakan di beberapa titik pemukiman umat Hindu. Dari hasil pantauan media sementara, ada sekitar lima titik penyelenggaraan. Pawai dilaksanakan oleh komunitas muda dan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) tingkat kecamatan.

Kelima titik itu adalah di Desa Pelangan, Desa Giri Tembesi, Desa Jagaraga Indah, Desa Suranadi, dan Desa Taman Sari.

Dalam prosesi pawai Ogoh-ogoh tersebut, tidak hanya dihadiri para pemangku atau tokoh agama Hindu di masing-masing desa, namun dihadiri juga oleh jajaran pimpinan kecamatan, Kapolsek, dan Kepala Desa masing-masing wilayah.

Menurut kepercayaan umat Hindu, Ogoh-ogoh yang mengambil aneka rupa makhluk menyeramkan merupakan simbolisasi dari keburukan atau kejahatan yang ada di alam semesta. Kejahatan akan menjadi penghalang umat manusia dalam melaksanakan dharma atau berbuat kebaikan. Ogoh-ogoh diarak keliling kampung, kemudian dibakar sebagai perwujudan usaha manusia memusnahkan kejahatan.

Prosesi pawai ogoh-ogoh yang merupakan bentuk usaha spiritual umat Hindu dalam menyiapkan Tapa Catur Bhrata atau Nyepi selama 24 jam esok harinya. Empat tapa bhrata simbolis tersebut diyakini oleh umat Hindu akan membawa umat manusia bisa sentausa dan harmoni dengan alam semesta.

Nyepi yang menjadi simbol pengendalian nafsu duniawi manusia akan dimulai saat terbenam matahari pada sore hari, di mana seluruh umat akan menyelenggarakan amati geni, amati karya, amati lelungean, dan amati lelanguan yang berakhir besok sore saat matahari terbenam di ufuk barat.

Karnaval ogoh-ogoh di Lombok Barat, di samping bermakna spiritual bagi umat yang meyakininya, juga menjadi potret keberagaman masyarakat yang indah. Keindahan tersebut kemudian menitiskan pesan damai dalam toleransi dan semangat untuk membangun Lombok Barat secara bersama-sama oleh lintas umat beragama.

Hal tersebut relevan dengan Tema Nyepi yang ditetapkan oleh PHDI kabupaten Lombok Barat, yaitu “Jadikan Catur Brata Penyepian Memperkuat Toleransi Kebhinekaan Berbangsa dan Bernegara Demi Keutuhan NKRI”.

Bupati Lombok Barat, melalui Kabag Humas dan Protokol H. Saiful Ahkam menyatakan, bangga dengan semangat toleransi yang ditunjukkan oleh masyarakat serta semangat relijius oleh umat Hindu di Lombok Barat.

“Alhamdulillah perayaan Hari Raya Nyepi yang didahului oleh pawai ogoh-ogoh berlangsung meriah dan aman. Dari laporan Bakesbangpol, desa-desa yang melaksanakan pawai mendapat dukungan dari para Kades dan para camat. Ini menjadi motivasi untuk kita semua meningkatkan semangat membangun Lombok Barat secara bersama-sama,” ujar Ahkam.

Ahkam menutup pembicaraan dengan mengucapkan, “Selamat Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Caka 1939, semoga Umat Hindu dapat melaksanakan ibadahnya dengan aman dan tenang”. [R-Hum]