Menyaksikan Parade Toleransi di Pawai Ogoh-ogoh Kota Mataram

3776
Sering berjalan waktu, Ogoh-ogoh bukan saja menjadi budaya Umat Hindu Kota Mataram dan sekitarnya, namun telah menjadi tradisi masyarakat Hindu Pulau Lombok. Foto: wayandenny.blogspot

Wartantb.com – Keragaman agama dan budaya di Kota Mataram membuat kota ini menjadi kota yang ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Pawai Ogoh-ogoh adalah salah satunya. Pawai yang digelar sehari sebelumn umat Hindu melangsungkan ibadah nyepi ini mampu menarik ribuan pengunjung dan penonton untuk datang.

Ogoh-ogoh merupakan budaya khas Pulau Dewata yang telah lama berkembang pesat di pulau Lombok , terutama di Kota Mataram.

Banyaknya warga Mataram yang berasal dari Bali menjadikan Ogoh-ogoh mulai dikenal luas oleh seluruh masyarakat Mataram, hingga ke seluruh masyarakat nusantara.

Kebudayaan yang berasal  dari Bali memang telah menjadi bagian penting dalam perkembangan kebudayaan di Pulau Lombok.

Baca Juga: Peresean, Seni Adu Ketangkasan Suku Sasak

Dalam ajaran Hindu Dharma, Ogoh-ogoh menggambarkan kepribadian butha kala. Butha kala menyimbolkan kekuatan alam semesta (bhu) dan waktu yang tidak terukur (kala).

Namun secara perwujudannya, butha kala digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan, tinggi dan besar. Biasanya butha kala kerap digambarkan dalam bentuk raksasa.

Ogoh-ogoh yang kerap diarak sepanjang jalan ini juga kerap digambarkan dalam bentuk mahluk-mahluk yang hidup di mayapada, neraka dan surga. Wujud dari bentuk tersebut seperti garuda, gajah, naga, widyadari dan dewa.

Semarak pawai Ogoh-ogoh yang dilaksanakan di Mataram memang telah banyak memberi dampak yang positif terhadap kemajuan pariwisata.

Jika menjelang Hari Raya Nyepi tiba, masing-masing banjar (lingkarang) mulai terlihat sibuk mempersiapkan dan membuat Ogoh-ogoh. Masing-masing banjar biasanya membuat wujud dan bentuk ogoh-ogoh berbeda dengan banjar-banjar yang lain.

Menurut ajaran Hindu Dharma, proses arak-arakan ogoh-ogoh menyimbolkan wujud keinsyafan manusia terhadap kekuatan alam semesta dan kekuatan waktu yang tidak terbantahkan.

Seluruh kekuatan tersebut terdiri dari kekuatan Bhuana Agung (alam semesta) dan kekuatan Bhuana Alit (diri manusia). Seluruhnya akan tergantung dari niat tulus manusia dalam menjaga seluruh isi alam semesta dan menjaga diri sendiri sebagai mahluk ciptaan tuhan.

Baca Juga: Nyongkolan, Sebuah Tradisi Unik Suku Sasak

Biasanya jumlah Ogoh-ogoh yang diarak setiap menjelang ibadah nyepi ini mencapai ratusan yang diarak oleh ribuan remaja, anak-anak dan para orang tua. Mereka mengenakan kostum atau pakaian seragam khas banjar (lingkaran masing-masing).

Saat pawai berlangsung, gemuruh tabuhan gendang dan gamelan serta musik-musik tradisional lainnya mengiringi upacara tersebut. Terlihat seluruh peserta pawai dengan serentak menari-nari mengikuti irama-irama musik yang dimainkan oleh pengiring.

Sementara itu kanan dan kiri pinggir jalan dipenuhi oleh penonton dari berbagai elemen masyarakat yang sengaja meluangkan waktunya untuk menyaksikan semarak pawai yang diadakan sekali setahun ini.

Pawai ogoh-ogoh ini memang sudah berlangsung dan rutin diadakan semenjak tahun 1992. Sering berjalan waktu, pawai Ogoh-ogoh bukan saja telah menjadi budaya Umat Hindu Kota Mataram dan sekitarnya, namun telah menjadi tradisi masyarakat Hindu Pulau Lombok.

Bagi anda yang gemar akan wisata budaya bernuansa religi, ada baiknya datang untuk menyaksikan langsung pawai yang digelar sekali dalam setahun ini. (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata)