Menteri Agama Buka Konferensi Internasional Alumni Al-Azhar

811
Dalam pandangan Mentri Agama, Al-Azhar memiliki daya tariknya tersendiri, selain karena keikhlasan para Ulama-ulamanya dan para guru-gurunya yang mendatangkan keberkahan bagi seluruh pelajar mahasiswa.

Mataram, Wartantb.com — Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin membuka secara resmi Konferensi Internasional Alumni Al-Azhar di Masjid terbesar di Pulau Seribu Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB di Mataram, Kamis (19/10/2017).

Di hadapan para ulama dari 22 negara yang merupakan Alumni Al-Azhar Mesir dan para santri yang hadir, Menteri Agama memberikan apresiasi kepada para alumni Al-Azhar atas kontribusi dan sumbangsihnya dalam membangun kehidupan keagamaan di Indonesia yang senantiasa menjunjung tinggi Islam secara moderat yang rahmatan lilalamin.

Kepada lembaga pendidikan Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan Islam tertua dunia, Menteri mengapresiasi kiprah lembaga pendidikan Islam yang telah berusia lebih dari 1000 tahun tersebut, senantiasa menebarkan islam wasathiyah sehingga kemudian dunia mengenangnya sebagai benteng moderasi Islam.

“Bangsa Indonesia merasa sangat bersyukur karena banyak sekali alumni Al-Azhar yang telah berkiprah dihampir semua aspek kehidupan. Salah satunya adalah Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi. Bahkan Presiden RI, Gus Dur pun merupakan alumni Al-Azhar,” terang Lukman Hakim.

Dalam pandangan Mentri Agama, Al-Azhar memiliki daya tariknya tersendiri, selain karena keikhlasan para Ulama-ulamanya dan para guru-gurunya yang mendatangkan keberkahan bagi seluruh pelajar mahasiswa. Juga daya tarik Universitas Al-Azhar adalah karena tradisi keilmuannya yang begitu kuat yang bercirikan islam moderat.

Ciri ini berasal dari awal Al-Azhar dari sebuah Masjid yang kemudian berkembang menjadi Universitas yang senantiasa mengusung nilai-nilai tauhid yang penuh dengan spiritualitas Islam yang dipadukan dengan keilmuan.

Ciri utama Al-Azhar bukan hanya menghimpun para pelajar dari seluruh penjuru dunia untuk mendalami keilmuan islam di Al-Azhar Mesir, tetapi juga tradisi keilmuannya yang menghimpun berbagai mazhap, berbagai aliran pemikiran dan berbagai aliran faham keagamaan yang merupakan kekayaan islam yang mampu dijaga dan dirawat dengan baik oleh Al-Azhar.

Kelebihan lainnya, kata menteri adalah memadukan hal-hal yang sifatnya tekstual dengan nalar dan kontekstual. Wahyu Al-Qur’an dan Hadist dijaga sedemikian rupa tapi juga kemudian akal diposisikan pada tempatnya secara proporsional. Disisi lain penggunaan akalpun dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak tercerabut dari teks-teks yang bersumber dari AL-Qur’an dan Hadist.

Pada kesempatan itu, menteri agama juga memuji alumni-alumni Al Azhar yang sebagian besar menghimpun dan mempersatukan umat islam serta senantiasa memelihara keragaman pandangan keagamaan dalam internal umat Islam itu sendiri. Bahkan juga keberagaman pandangan keagamaan di luar Islam.

Inilah yang dalam konteks global sekarang ini semakin memiliki tingkat urgensi dan relevansi yang tinggi. keberadaan Al-Azhar semakin relevan karena alumni-alumninya semakin dibutuhkan agar peradaban dunia ini tidak semakin menurun kualitasnya karena kompetisi hidup yang semakin keras, tajam dan besar yang seringkali sebagian kita justru menggunakan agama untuk saling menegasikan antara satu dengan yang lainnya, tegas menteri.

Oleh karenanya, ia memberikan apreasi atas tema moderasi islam ini merupakan sesuatu yang sangat penting untuk disyukuri. Karena menurutnya disinilah letak kekuatan sesungguhnya Al-Azhar yang semakin dibutuhkan oleh tidak hanya umat islam tapi seluruh warga dunia di era globalisasi ini.

Dalam pandangannya, Al-Azhar dikenal sebagai lembaga pendidikan yang moderat dengan mengajarkan empat mazhab menunjukkan betapa luasnya wawasan yang dimiliki Al-Azhar yang diajarkan kepada seluruh pelajar mahasiswanya. Menurutnya, tiga isu besar yang dikupas dalam konferensi internasional di Lombok NTB ini, yakni : kufur/kafir, fatwa dan dakwah, menunjukkan alumni-alumni Al Azhar sangat arif dan bijaksana.

Ia menegaskan konsepsi tentang apa itu kufur sebagai sesuatu yang belakangan ini menjadi isu yang cukup marak di antara kita karena hanya persoalan yang sifatnya tidak pokok membuat sebagian kita saling mengkafirkan satu sama lain. Maka dalam konteks kekinian kita perlu memahami apa sesungguhnya definisi dan konsepsi dari kufur itu, jelasnya.

Demikian pula pandangannya tentang fatwa. Ia menilai sangat relevan dan kontekstual untuk dibahas, terlebih di era teknologi komunikasi saat ini dimana kita nyaris tiada henti menerima pandangan agama bahkan fatwa-fatwa dari pihak yang tidak cukup memiliki otoritas untuk mengeluarkannya.

Selanjutnya tentang definisi dan konsepsi dakwah. Menteri agama menegaskan bahwa dakwah yang mengajak, mengayomi bukan dakwah yang saling menafikkan antara satu dengan yang lain. Pemerintah, umat Islam Indonesia dan warga dunia sangat menunggu tiga isu yang akan dirumuskan dalam konferensi internasional.

“Saya yakin hasilnya tentu akan menjadi sumbangsih, menjadi kontribusi yang sangat bermakna dalam kita menjaga, memelihara dan merawat peradaban dunia ini akan semakin baik dimasa-masa mendatang”, pungkasnya.

Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi dalam sambutannya mengatakan bahwa moderatisasi bukan hanya bagian dari agama Islam akan tetapi pusat untuk dakwah dalam agama Islam.

“Mari kita menjaga, memuliakan, meyakini dan mensyukuri moderatisasi ini”, ajaknya. [H/WR]