Ini Penjelasan DLH Terkait Mangrove dan Aksi Trabas di Pantai Ule

848
Kegiatan pengecakan lokasi yang dilakukan DLH Kota Bima dan pihak terkait lain untuk memastikan adanya kerusakan mangrove di lokasi trabas.

KOTA BIMA, Warta NTB – Aksi para pencinta motor trail yang melakukan kegiatan trabas di jalur Pantai Ule Kota Bima, Sabtu (23/2/2019) lalu, sontak viral dan menjadi perbicangan netizen di media sosial, pasalnya beradar foto yang diunggah netizen memperlihatkan para trabaser sedang melintasi kawasan mangrove di Pantai Ule.

Pasca diunggah, foto tersebut langsung viral dan menjadi perbicangan netizen. Beragam tanggapan muncul terkait kegiatan yang diselenggarakan oleh Komunitas Trail Enduro Comunity (Treco) itu. Banyak yang menilai aksi tersebut berpotensi merusak ekosistem dan tanaman mangrove yang ada di sekitar pantai.

Menanggapi hal itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima melalui Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan A. Haris Dinata bersama pihak terkait lain seperti Kodim 1608/Bima diwakili Pasi Intel dan Ketua Komunitas Treco M. Nizar melakukan pengecekan kerusakan mangrove di lokasi trabas, Selasa (26/2/2019)

A. Haris mengatakan, setelah mendapat informasi adanya kerusakan pohon mangrove yang ditimbulkan akibat kegiatan trabas yang dilakukan Komunitas Treco, DLH dan pihak terkait lain langsung melakukan pengecekan di lokasi.

“DLH dan pihak terkait langsung turun ke lokasi untuk memastikan adanya kerusakan pohon mangrove akibat kegiatan trabas, setelah dilakukan pengecekan bersama tidak ditemukan ada pohon mangrove yang rusak seperti informasi yang beredar,” katanya.

Kabid menyebutkan, di sekitar lokasi memang ditemukan jejak ban motor sisa trabas, tetapi tidak ada pohon mangrove yang dirusak dan ia memastikan bahwa sekitar 40 pohon yang ada di lokasi semuanya masih utuh.

“Pada pasir pantai ditemukan  jajak ban motor sisa trabas, tetapi tidak ditemukan ada pohon mangrove yang rusak ditabrak atau dilindas kendaraan. Semuanya masih utuh,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Trabas M. Nizar mengatakan, komunitas Treco adalah komunitas yang mencintai lingkungan, tidak mungkin  akan merusak tanaman mangrove.

“Informasi yang beredar mungkin terlalu berlebihan karena tidak mungkin komunitas kami  akan merusak tanaman mangrove karena komintas kami juga mencintai lingkungan,” katanya.

Nizar menjelaskan, perihal mengenai adanya anggota trabas yang melewati kawasan mangrove karena saat itu pasir mulai berlumpur sehingga para trabares keluar melewati jalur tersebut.

“Saat melintas para trabaser tidak ada yang melindas atau merusak pohon mangrove sehingga tidak ada satu pun pohon yang rusak dan ini sudah dilakukan pengecekan bersama DLH dan pihak terkait lain,” ujarnya.

Terkait polemik yang berkembang, selaku panitia pihaknya menyampaikan permohonan maaf dan siap melakukan perbaikan dan penanam kembali apabila ditemukan ada pohon mangrove yang rusak akibat kegiatan trabas.

“Atas nama panitia kami menyampaikan permohonan maaf dan kami juga meminta maaf karena telah melintasi kawasan tersebut,” pungkasnya. (WR-Man)