Dari Ibu Rumah Tangga Hingga Anak Kampus Menginginkan Mobe Jadi Alat Transportasi Publik

1603
Masyarakat NTB dari berbagai kalangan berharap Mobe bisa segera menjadi alat transportasi umum. Foto: Phone/wartantb.com

Mataram, Wartantb.com — Kehadiran Mobe, kendaraan tiga roda berpenumpang di Bumi Gora, Nusa Tenggara Barat disambut positif oleh masyarakat NTB. Kemunculan Mobe dengan plat hitam DR 5242 MH cukup menarik perhatian setiap melintas di jalan raya. Selain karena jenis kendaraan tersebut memang pertama dan satu-satunya di NTB, bentuknya yang mungil, unik dan simpel mejadi daya tarik tersendiri.

Kehebohan kendaraan tiga roda berpenumpang tersebut mondorong redaksi wartantb.com melakukan riset kecil-kecilan untuk mendapatkan tanggapan masyarakat: apa pendapat mereka jika Mobe dijadikan kendaraan penumpang umum? Berikut liputannya.

Baca Juga: Mobe By TVS, Kendaraan Tiga Roda Penumpang Pertama di Bumi Gora

Sujiyanti (28), seorang ibu rumah tangga, tinggal di Kediri, Lombok Barat mengaku terkesima saat pertama kali melihat Mobe yang melintas di jalan raya depan Pasar Kediri. Pada awalnya ia mengira itu sebuah mobil dengan ukuran mini. Manun, setelah ia perhatikan roda depannya, barulah ia sadari kalau itu adalah Mobe, kendaraan tiga roda berpenumpang.

“Saya suka dengan bentuknya yang unik dan mungil. Dan yang paling penting sih, kalau dipakai buat ngantar ibu-ibu ke pasar sangat cocok. Soalnya kalau pas belanjaan kita banyak kan bisa nampung sekalian. Kalau pakai motor agak susah bawanya. Kalaupun naik angkot kita mesti nenteng lagi belanjaan. Soalnya rumah saya masuk gang. Angkot kan cuma sampai jalan raya aja, ga bisa masuk gang,” tutur ibu dua anak ini sumringah.

Hal senanda juga diungkapkan oleh Firdaus (21), mahasiswa Politeknik Kesehatan Mataram. Menurutnya, Mobe sangat cocok untuk memenuhi kebutuhan transportasi anak kampus.

“Rata-rata mahasiswa kan naik motor kalau ke kampus. Nah, repotnya kalau musim hujan kita jadi terhambat ke kampus. Walaupun sudah pakai jas hujan tetap aja basah. Paling nggak bagian ujung bawah celana dan sepatu tetap kena air hujan. Kalau pakai Mobe nggak kepanasan dan nggak kehujanan. Ini bisa jadi alternatif, karena kalau naik taksi sepertinya tidak terjangkau kantong mahasiswa,” ungkap mahasiswa semester akhir ini.

Hadi Jaya (30), sorang sopir harian lepas menginginkan agar Mobe bisa segera dijadikan kendaraan penumpang umum. Dirinya mengaku siap menjadi sopir Mobe dengan sistem setor harian. Pasalnya, dengan sistem setor harian, prospek pendapatanya lebih pasti ketimbang menjadi sopir harian lepas.

“Menjadi sopir harian lepas itu pendapatan sangat tidak menentu. Kita bekerja hanya pada saat ada tamu saja. Itupun dibagi sama bos agar semua sopir harian lepas mendapat giliran. Kalau pas lagi ramai tamu, dalam sebulan rata-rata kita dapat 20 hari. Tapi kalau pas lagi sepi, dalam sebulan kadang belum tentu dapat tamu,” kata Hadi.

Baca Juga: Proses Mudah, Tiga Roda Penumpang Pertama di NTB Mendapat Plat Nomor DR 5242 MH

Djohur (54), pengusaha di bidang transportasi di Perampuan, Lombok Barat berharap pemerintah dapat mengeluarkan ijin trayek atau semacam regulasi agar Mobe bisa dijadikan alat transportasi publik. Menurutnya, alat transportasi jenis Mobe dapat memberikan solusi terhadap kebutuhan angkutan masyarakat pada segmen tertentu.

“Sebetulnya bagi kita pengusaha sederhana saja cara melihatnya. Pertama, kita membaca ada kebutuhan masyaraka yang bersifat khusus. Contohnya kebutuhan antar jemput anak-anak sekolah, ibu-ibu yang berangkat ke pasar, hingga mengantar karyawan atau PNS. Kedua, ada alat trasport yang bisa menjawab kebutuhan tersebut. Jika sudah klop antara kebutuhan dan ketersediaan ini, maka tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak menjembatani dalam bentuk regulasi,” ungkap M. Djohur berharap. [WR]