Budaya “Kalondo Wei” Masih Melekat di Masyarakat Desa Waro

697
Prosesi upacara “Kalondo Wei” yang dilakukan oleh masyarakat Desa Waro, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, Selasa (24/11/2020) malam.

BIMA, Warta NTB – Seiring perkembangan jaman terkadang adat dan budaya yang ditinggalkan oleh para leluhur akan luntur, namun tidak bagi masyarakat Desa Waro, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima. Budaya-budaya itu masih terus dipertahankan dan masih melakat di tengah kehidupan masyarakat.

Seperti salah satunya adalah prosesi budaya “Kalondo Wei” dalam acara pernikahan salah satu warga, yakni Imran, Sp seorang gadis asal Desa Waro dengan Fad’ah Binggadi pemuda dari Desa Tolouwi, Kecamatan Monta.

Prosesi upacara Kalondo Wei yang dilakukan, Selasa (24/11/2020) malam cukup antusias dihadiri warga. Warga berbondong-bondong ingin menyaksikan salah satu prosesi dalam upacara pernikahan yang menjadi budaya masyarakat Bima ini.

Kepala Desa Waro Muhammad Ali, SH yang ditemui di lokasi mengatakan, meski jaman sudah maju, namun masyarakat Desa Waro masih tetap mempertahankan budaya-budaya yang ditinggalkan oleh leluhur.

“Salah satunya adalah budaya Kalondo Wei seperti yang dilakukan malam ini. Budaya-budaya seperti ini masih terus dipertahankan oleh masyarakat baik dalam prosesi pernikahan maupun dalam kegiatan lain,” katanya.

Dia berharap, budaya yang diwariskan oleh nenek moyang dapat dipertahakan. Oleh sebab itu, budaya sangat penting dan wajib untuk dilestarikan serta dijaga agar diwariskan sampai ke anak cucu kita sebagai identitas bangsa.

“Melestarikan budaya adalah tugas kita, agar identitas  yang diwariskan oleh nenek moyang kita sampai kepada anak cucu kita nantinya,” kata Kepala Desa dua periode ini.

Prosesi Kalondo Wei yang dilakukan oleh masyarakat Desa Waro ini cukup antusias disaksikan oleh warga dimana seorang calon pengantin perempuan terlihat ditandu oleh empat orang pemuda dan diantar menuju “Uma Ruka” rumah rias. Selama perjalanan diiringi dengan musik hadrah dan rebana yang membuat acara semakin semarak dan ramai.

Sementara dari cacatan budayawan Bima Alan Malingi yang dikutip wartantb.com yang dimaksud dengan Kalondo Wei adalah salah salah satu rangkaian dari prosesi pernikahan adat Bima. Secara harfiah Kalondo berarti menurunkan, sedangkan Wei berarti Istri.

Tapi dalam prakteknya, kegiatan Kalondo Wei adalah prosesi penjemputan calon pengantin wanita oleh calon pengantin pria dari kediamannya menuju Uma Ruka atau Rumah Mahligai untuk dilakukan upacara rias, kapanca dan lain-lain.

Calon pengantin wanita diusung dengan sebuah kursi oleh empat orang pemuda. Pada masa lalu, prosesi ini menggunakan kursi rotan dan lampu Petromax karena biasa dilakukan pada malam hari atau senja hari. (WR-Al)