Sesat Berpikir, Bullying Melayang

94

Oleh: Muammar Kaddafi

Para budiman dan budiwati, mengapa bumi ini bulat? Salah satu alasannya mungkin agar tiada hari tanpa perdebatan. Hehehe… nggak nyambung yah? Mohon jangan di-bully karena kita tidak sedang memperdebatkan bumi bulat atau bumi datar.

Perdebatan sehat kita perlukan untuk menguji kebenaran sebuah pernyataan atau sebuah gagasan. Kalau ada perdebatan yang sehat, berarti ada dong perdebatan sakit. Yup, ada! Sakit dalam arti tidak lagi mengindahkan norma-norma perdebatan yang seharusnya.

Melalui layar televisi atau media sosial kita sering menyaksikan acara debat. Dua kubu, baik yang pro maupun yang kontra terhadap isu tertentu dihadirkan. Namun, sering kita dapatkan perdebatan yang berakhir dengan hasil mengecewakan. Boro-boro mendapatkan kebenaran subsansial, yang kita saksikan hanyalah aksi dua pihak yang sedang berkelahi. Kalap. Penuh amarah.

Salah satu bahkan kedua kubu saling serang pada hal-hal yang jauh dari substansi persoalan yang diperdebatkan. Yang paling jamak adalah menyerang masalah personal. Misalnya, sedang membahas soal angka kemiskinan, tiba-tiba salah satu kubu menyinggung jam tangan mahal yang digunakan oleh lawan debat.

“Ah, bagaimana anda bisa berempati dan membicarakan orang miskin kalau hidup anda saja glamor. Jam tangan anda saja sama dengan harga rumah subsidi untuk orang miskin,” serang salah satu kubu. Ia pun merasa puas. Ia merasa telah membuat lawan debatnya keok.

Apa coba hubungan jam tangan yang dikenakan lawan debat dengan angka kemiskinan yang menjadi topik. Toh, soal pakaian itu bergantung pada selera dan kemampuan masing-masing si pemakai.

Itu hanyalah salah satu contoh. Banyak lagi sisi-sisi personal yang sering dijadikan “amunisi” oleh lawan debat. Kadang menyinggung soal latar belakang pendidikan, pekerjaan, kehidupan pribadi, afiliasi politik, suku, agama, ras dan lain-lain yang sama sekali tidak relevan dengan konteks perdebatan.

Apa yang bisa kita dapatkan dari perdebatan macam ini? Nihil. Tidak mendidik. Bahkan minus. Oleh karena prosesnya sakit, demikian pula hasilnya tentu sakit. Tak ada pelajaran atau pengetahuan baru yang kita peroleh. Yang muncul malah gosip-gosip baru tentang kehidupan pribadi orang lain.

Dalam ilmu logikan, model argumentasi menyerang sisi personal lawan bicara disebut Ad Hominem, singkatan dari argumentum ad hominem (berasal dari kata Latin yang artinya “kepada orang”), yakni suatu upaya argumentasi dengan cara menunjukkan sisi negatif yang menyasar ke karakter atau individu seseorang.

Bahkan ilmu logika menggolongkan Ad Hominem sebagai salah satu kesesatan berpikir. Sekali lagi perlu digarisbawahi “sesat”. Yang namanya sesuatu yang sesat sudah pasti akan berputar-putar dan berjibaku di situ-situ saja. Tak menemukan jalan keluar. Hanya akan terus bermain pada wilayah-wilayah personal saja. Tidak mungkin menemukan secercah kebenaran pun dengan cara seperti ini.

Pembunuhan Karakter di Medsos

Kita patut bersyukur dengan adanya kemajuan teknologi informatika seperti saat ini. Apa lagi dengan hadirnya dunia sosial media, komunikasi menjadi mudah. Dunia ada dalam genggaman. Kapan dan di mana saja bisa meluapkan gagasan, berkeluh kesah, berbagi inspirasi, dan juga menyampaikan informasi publik.

Sesaat usai membuat pesan di dinding akun sosial media, seantero dunia dapat segera mengetahuinya. Oh, betapa indahnya hidup di alam media sosial. Dunia serasa milik netizen.

Namun demikian, kehadiran dunia sosial media tak selamanya indah. Sebab ia juga menghasilkan banyak sampah komunikasi. Berbagai kabar bohong alias hoax juga mudah menyebar di dunia sosial media. Dan yang paling menyedihkan ialah tatkala sosial media menjadi ajang pembunuhan karakter.

Wow! Makin sadis saja. Memang begitulah adanya. Bahkan pembunuhan karakter ini super sadis dibandingkan pembunuhan fisik. Meskipun kedua-dunya sama-sama tindakan tak terpuji.

Pembunuhan karakter di jagad sosial media masih berkait erat dengan diskusi sakit dengan cara-cara Ad Hominem. Kesesatan logika bahkan bisa berkembang pada tindakan pembunuhan karakter.

Wida Kriswanti dalam tulisannya berjudul, “Memahami Bagaimana Collapse By Design Terjadi, Bullying Kelas Atas?” menarik untuk dijadikan referensi untuk melihat bagaimana pola pembunuhan karakter yang dilakukan dengan sengaja (by design).

Wida menguraikan pandangan Anggia Chrisanti, konselor dan terapis di Biro Konsultan Psikologi Westaria, terkait istilah yang tidak ada dalam dunia psikologi maupun medis.

Dikatakan oleh Anggia Chrisanti, collapse by design bisa diartikan semacam pembunuhan karakter yang direncanakan. Tapi tidak melulu soal pembunuhan karakter. Yang jelas, membuat collapsed (kejatuhan) dengan direncanakan. Semacam black campaign, juga termasuk collapse by design.

Dijelaskannya lebih lanjut, korban atau sasaran tidak dibunuh, tapi dibuat lemah semacam di-bully. Collapse by design juga dapat diartikan membuat situasi disengaja (by design) dengan tujuan collapsed (kejatuhan) dalam hal ini secara psikis atau mental sehingga membuat seseorang menderita sakit psikis (frustasi dan depresi) sampai merasa tidak berdaya dan putus asa.

Pelaku collapse by design bisa jadi seseorang yang amat sakit hati atau ingin menyakiti korban. Namun kemungkinan tidak dilakukan sendiri, melainkan berkomplot. Dalam jagad sosial media, komplotan ini bisa berupa buzzer yang sengaja diorganisir oleh pelaku atau pun orang-orang yang merasa punya kepentingan yang sama dengan pelaku.

Karena membuat seseorang menjadi collapsed dalam waktu singkat tidak mudah. Betul-betul harus by design, diatur dengan segala strategi, secara konsisten dan kontinu. Diserang dari segala sisi oleh banyak orang sehingga korban merasa tidak ada jalan keluar.

Di dunia sosial media kita menemukan beragam keasyikan. Tetapi, di sana juga kita menghadapi ancaman pembunuhan karakter setiap saat. Dunia medsos adalah dunia yang terbuka. Beragam karakter, cara berpikir sekaligus perbedaan kepentingan orang mengintai setiap saat.

Di sana kita tidak selalu menemukan kawan diskusi yang asyik– kawan untuk kita ajak menemukan kebenaran substansial atas hal-hal yang tengah didiskusikan. Di sana ibarat hutan belantara. Hanya sebagian kecil penghuninya yang kita kenal. Jangankan yang belum kita kenal, kadang-kadang yang sudah kita kenal baik, pun bisa tiba-tiba menyerang. Maka, waspadalah!