Sepucuk Surat Dari Bima untuk Presiden Jokowi

15945
Foto : Naisya Astriani dari akun facebook Ir. Aris Firdausi. Surat, Jokowi repro google image.

Kota Bima, Wartantb.com – Peristiwa naas menimpa Nayza Astriani  (8) siswa SDN 14 Kota Bima meninggalkan luka batin yang mendalam bagi keluarga. Nayza tewas tenggelam saat mengikuti kegiatan kurikuler olahraga di kolam renang Arema. Peristiwa itu terjadi, Rabu (09/11/2016) sekitar pukul 16.00 WITA.

Semua keluarga telah mengikhlaskan kepergian sang malaikat kecil itu. Ir. Aris Firdausi, sang kakek   Nayza menggugah perhatian publik akan sistem pendidikan dengan menulis surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia. Semoga surat ini dapat menjadi tonggak awal evalusasi sistem pendidikan kita. Amin. Berikut isi surat sang kakek:

SURAT UNTUK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. C/Q MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA.

Bismillaahirrahmaanirrohiim…~

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh…~

Sebelumnya saya atas nama keluarga besar kami meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak karena harus melibatkan Bapak atas keterbatasan dan keterpurukan kami yang berada di Daerah terpencil, jauh dari hingar bingar Kota Jakarta.

Pada tanggal 9 Nopember 2016, Allah SWT menguji kami sekeluarga dengan sebuah cobaan besar yang sangat tragis, yaitu meningalnya cucu kami tercinta bernama Nayza, 8 tahun siswi kls 3 SDN No 14 Kota Bima NTB, ketika sedang menjalani proses belajar mengajar untuk mata pelajaran Olah raga (berenang) di sebuah area permandian Arema Tirta – Kota Bima. Penyebab meninggalnya cucu kami adalah akibat kehabisan oksigen dalam sebuah kolam untuk orang dewasa dengan kedalaman air setinggi leher orang dewasa. Cucu kami (korban) ditemukan sesaat menjelang kepulangan rombongan SDN N0 14 Kota Bima oleh Petugas Pengelola Kolam Renang dengan sebuah teriakan keras karena melihat benda berwarna putih dan kuning (pakaiannya) di dasara kolam.

Hypotesis kami menyatakan bahwa kejadian ini disebabkan oleh KELALAIAN dari semua pihak terkait, antara lain, yaitu: guru-gurunya dan juga pengelola kolam renang.

Atas nama Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Adil, kami sekeluarga menerima cobaan besar ini dengan penuh keikhlasan yang dibarengi dengan segenap kekuatan lahir dan batin kami, bahwa ini adalah Takdir buat cucu kami tercinta.

Kami tahu bahwa, apapun yang kami lakukan tidak akan membuat cucu kami hidup kembali. Kami juga memahami dengan baik bahwa tidak ada satupun yang menginginkan keadaan ini terjadi, baik Kami sekeluarga, Guru-gurunya, Pengelola Kolam Renang, dan mungkin Bapak serta yang lainnya…~ Andaikan Bapak tahu betapa kami sangat mencintai Almarhummah, hingga menjelang keberangkatannya ke Kolam Renang itu meninggalkan kesan tersendiri dalam seluruh “ruang hati” kami.

Almarhummah cucu kami adalah anak yang cerdas, memiliki talenta yang luar biasa terutama di bidang seni dan olah raga (Pencak Silat). Terakhir dia tercatat sebagai murid pada Perguruan Silat “Bantaran Angin” Kota Bima.

Bapak Presiden Yang Terhormat…~

Karena cobaan dari Allah SWT ini sudah kami terima dengan KEIKHLASAN HATI kami, kami tidak menginginkan kejadian ini akan merusak hubungan Ukhuwah Islamiyah dan Insaniah kami dengan siapapun yang terlibat dalam masalah dan penderitaan kami ini. Namun kami hanya bisa berharap kepada Bapak agar dapat kiranya meninjau kembali Peraturan, Undang-undang, dan atau apapun Regulasinya yang sudah ditetapkan sebagai Kurikulum yang berlaku untuk “Dunia Pendidikan Di Indonesia”, terutama yang berkaitan dengan Mata Pelajaran Olah Raga dan atau Mata Pelajaran lain, yang karena tidak ada SOP/SPO-nya yang jelas dapat menyebabkan HILANGNYA NYAWA anak-anak yang tidak berdosa…~

Akhirnya kami berharap, agar tangisan kami adalah tangisan Bapak juga, tangisan para orang tua di seluruh negeri ini yang mendambakan keselamatan dan kenyamanan anak-anak kita. Kedukaan kami adalah kedukaan Bapak juga, kedukaan para orang tua di seluruh dunia yang mendambakan kasih sayang dan kelembutan guru-guru mereka ketika mereka sedang berada di sekolah atau di luar sekolah mereka. Keikhlasan dan Ketulusan hati kami adalah Keikhlasan dan Ketulusan Bapak juga, yaitu Keikhlasan dan Ketulusan para orang tua yang mendambakan anak-anak mereka agar memiliki rasa simpati dan empati terhadap sesama, dan ketika mereka sudah dewasa mereka tidak memiliki jiwa untuk saling bermusuhan dan saling membenci.

Bapak Presiden Yang Saya Hormati…~

Kejadian ini kita petik hikmahnya. Semoga Allah SWT akan memberikan seindah-indahnya tempat di Syurga untuk Almarhummah. Kejadian ini memberi pelajaran yang baik bagi kita semua. Kejadian ini mengajarkan kepada kita untuk “TIDAK MELAKUKAN KELALAIAN” di saat kita sedang bekerja. Kejadian ini akan mendekatkan ukhuwah di antara kita semua.

Terimakasih banyak kepada semua pihak yang sudah membantu dalam Prosesi Pemakaman cucu kami. Terimakasih banyak kepada pengelola kolam renang Arema dan pak Usman dkk (guru pembimbing  Olah Raga) yang dengan penuh keberanian dan menjunjung tinggi sportifitas sudah datang menemui kami untuk meminta maaf atas segala kelalaian yang sudah dilakukan. Terimakasih banyak kepada pihak POLRESTA Kota Bima dan ABRI yang sudah ikut mengawal lokasi Rumah Duka dan Kompleks Pemakaman sehingga berjalan dengan aman dan damai. Terimakasih kepada pihak RSUD Bima yang sudah melakukan visum et repertum kepada mayat korban. Terimakasih banyak kepada Pihak LSM/Wartawan yang sudah meliput kejadian ini. Spesial terimakasih kami kepada Lembaga Perlindungan Anak Kota Bima yang sudah menyupport secara moril kepada kami sekeluarga.

Terakhir saya menitip pesan: JAGA DAN AWASI ANAK KITA DENGAN SEBAIK-BAIKNYA PENGAWASAN, JANGAN PERNAH LENGAH. KAMI TIDAK MENGINGINKAN KEJADIAN INI MENYEBAKAN “TRAUMA KEJIWAAN” UNTUK ANAK-ANAK INDONESIA.

Bapak Presiden, Salam hormat dari kami sekeluarga, mohon maaf jika tersua hal-hal yang menyinggung hati dan perasaan..~

Wassalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh…~

Hormat Kami,

– Ir. Aris Firdausi –

Komentar Facebook di sini