Politik Baliho, Politik Pencitraan Instan

719

Maraknya politik baliho ditengah masyarakat menambah citra politik semakin buruk, menjamurnya politisi tempe yang hadir secara tiba-tiba pada bursa pemilihan menjadi catatan tersendiri bagi bangsa ini.

Apalagi ditengah masyarakat bergulir istilah politik adalah kotor karena apa yang rakyat lihat adalah sesuai dengan apa yang tampilkan oleh elit, misalnya terjadi money politik, black campaight, pembagian sembako dan mengumbar janji-janji palsu.

Adapaun pandangan dari rakyat melihat bahwa politik merupakan barang yang kotor (selalu berorientasi pada hasrat untuk mendapatkan kekuasaan), itu sah-sah saja oleh karena realitasnya demikian tidak bisa juga disalahkan secara serta merta oleh karena adanya pandangan seperti itu.

Itu bisa kita maklumi mengapa adanya ketidak percayaan bagi rakyat terhadap politisi kita, jika ditelusuri kembali para aktor kita hari ini akan semakin menguatkan pandangan masyarakat tersebut.

Dengan modal sekian juta untuk mencetak baliho dengan ukuran besar maupun kecil, sudah bisa menjadi politisi di negri ini walau tanpa melalui proses panjang entah di dunia akademik, organisasi maupun partai politik.

Dan mereka hanyalah manusia instan dari golongan pengusaha yang mempunyai modal yang cukup banyak untuk membayar mesin politik (partai politik).

Sementara orang yang memiliki kapasitas dan kapabilitas itu tidak dipakai sama sekali bahkan di abaikan oleh karena tersendat di persoalan modal yang besar, karena demokrasi kita menuntut biaya yang cukup serius.

Disepanjang jalan raya hampir tidak kita temukan baliho terpajang berjejeran dipinggir jalan, bahkan beberapa kandidat memasang ditempat yang sama dan hanya berjarak beberapa meter saja bahkan berdempetan satu sama lainnya.

Adapula mereka mesang foto dengan tokoh setempat, orang miskin, anak yatim, korban banjir bahkan sampai pada korban penipuan berjejeran dalam spanduk komplit dengan tag line kandidat.

Belum lagi dengan sebagian masyarakat cenderung tidak mengetahui siapa tokoh tersebut dan apa visi misi yang menjadi andalannya, rakyat akan melihat tampak para calon didalam baliho sesuai dengan selera masing-masing.

Entah karena calon bersama dengan tokoh agama, tokoh masyarakat tokoh adat dll atau karena dalam fotonya kelihatan bagus sehingga pemilih mencoblosnya, tanpa berpikir panjang siapa dan bagaimana calon tersebut.

-Arifuddin-
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram

Komentar Facebook di sini