Perang Topat, Tradisi Unik Suku Sasak

1608
Gadis Sasak membawa ketupat yang akan digunakan sebagai senjata Perang Topat.

Perang Topat adalah perang dengan cara saling melempar ketupat antara umat Hindu dengan umat Islam di kawasan Pura Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Tidak ada air mata yang menetes. Tidak ada tubuh yang terluka. Tidak ada darah yang tumpah. Tidak ada nyawa yang dikorbankan. Yang ada hanyalah kecerian, sorak-sorai, canda dan tawa antara kedua kubu yang sedang ambil bagian dalam perang topat.

Perang Topat adalah tradisi masyarakat Lingsar yang sesungguhnya merupakan simbol akulturasi damai antara kebudayaan Hindu Bali dengan kebudayaan Islam Sasak.

Mengulas sejarah kemunculan tradisi perang topat tentu berbarengan dengan sejarah pertautan kebudayaan Hindu dengan kebudayaan Islam di Pulau Lombok.



Kilas Balik Sejarah Perang Topat

Secara umum sejarah pengaruh kebudayaan Hindu Bali di Pulau Lombok bermula di kala kerajaan Karangasem Bali mulai memantapkan kekuasaannya di Pulau Lombok.

Penanda kekuasaan Kerajaan Karangasem bermula ketika membentuk satu kerajaan kecil seperti kerajaan Singasari di Pulau Lombok. Kerajaan yang baru didirikan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang bernama Anak Agung Ngurah Made Karang pada tahun 1720 M.

Seiring dengan perluasan pengaruh Kerajaan Karangasem di sebagian Pulau Lombok, semakin banyak masayarakat Hindu Bali yang bermigrasi ke Pulau Lombok. Sebelum pengaruh Hindu Bali masuk, penduduk Pulau Lombok sendiri sudah memeluk agama Islam.

Pertautan dua kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan dan agama yang berbeda tersebut terjadi secara damai.

Tradisi Perang Topat sendiri tidak lepas dari sejarah pembangunan Pura Lingsar di Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat sekarang ini. Pembangunan pura mulai dilakukan pada  masa pemerintahan raja Anak Agung Gede Ngurah yang merupakan keturunan raja Karangasem, tahun 1759 M.



Berdasarkan cerita turun-temurun, cikal bakal perang topat bermula dari konflik yang berubah menjadi damai. Konon menurut cerita, kala itu pembangunan Pura sebagai tempat ibadah umat Hindu mendapat penolakan dari umat Islam.

Terjadilah ketegangan di antara kedua umat yang berujung pada keputusan untuk berperang. Di tengah ketegangan yang hampir berujung pada perang fisik, muncul seorang kyai kharismatik mendamaikan keduanya.

Setelah sang kyai menasihati kedua kelompok, mereka akhirnya menyadari akan pentingnya hudup rukun antar umat yang berbeda. Sebagai ekspresi damai antar dua kelompok, perang fisik digantikan dengan perang topat.

Semenjak saat itu tradisi perang topat dilaksanakan setiap tahun untuk merawat ingatan akan pentingnya hidup rukun antar umat Hindu dengan umat Islam.



Perang topat dilakukan di dalam kawasan Pura Lingsar. Di dalam kawasan tersebut terdapat dua bangunan yang disakralkan oleh masing-masing umat, yakni Pura Gaduh yang menjadi bangunan sakral umat Hindu dan bangunan Kemaliq yang disakralkan oleh umat Islam.

Kedua bangunan tersebut nampaknya sengaja dibangun sebagai simbol kerukunan umat Hindu dengan umat Islam yang telah berlangsung sejak jaman kerajaan.

Tradisi perang topat dilaksanakan setahun sekali, yakni setiap bulan Desember. Tepatnya setiap hari ke-15 bulan ke-7 yang disebut purnama sasih kepitu, penanggalan masyarakat adat suku Sasak. Sedangkan berdasarkan penanggalan umat Hindu Bali, bertepatan dengan hari ke-15 bulan ke-6 yang disebut dengan purnama sasih kenem.

Pada malam purnama merupakan waktu yang tepat bagi umat hindu untuk melaksanakan ritual Pujawali, sedangkan bagi umat Islam merupakan waktu yang tepat untuk melaksanakan napak tilas di bangunan Kemaliq untuk mengenang jasa-jasa seorang penyiar agama Islam di Pulau Lombok yang bernama Raden Mas Sumilir.

Napak Tilas Kisah Raden Mas Sumilir

Menurut cerita yang diyakini masyarakat, daerah Lingsar memang tak bisa dipisahkan dari kisah Raden Mas Sumilir. Dikisahkan, suatu waktu Raden Mas Sumilir menancapkan tongkatnya di tanah Bayan.



Setelah tongkatnya dicabut dari tanah, menyemburlah mata air dari perut bumi. Dalam bahasa Sasak air muncrat disebut “langser”, lama-lama bergerser pada penyebutan “lengser”, dan kini disebut sebagai “Lingsar”.

Raden Mas Sumilir menghilang di mata air bekas tancapan tongkatnya. Masyarakat kala itu dirundung duka karena kehilang sosok berjasa besar dalam kehidupan mereka. Terutama jasa dalam mengajarkan agama Islam.

Kesedihan berlangsung bertahun-tahun hingga datanglah Raden Piling, yang tak lain adalah keponakan Raden Mas Sumilir.

Raden Piling mendapatkan semacam petunjuk, Raden Mas Sumilir akan muncul di hadapan masyarakat di lokasi mata air tempat beliau menghilang. Berbagai persiapan dilakukan untuk menyambut kemunculan Raden Mas Sumilir.

Ketupat serta lauknya dipersiapkan oleh masyarakat. Tiba saatnya Raden Mas Sumilir muncul di hadapan masyarakat. Waktunya berlangsung setelah bunga waru berguguran atau sekitar pukul setengah lima sore.

Usai kemunculannya, Raden Mas Sumilir kembali menghilang. Masyarakat sudah cukup puas dengan pertemuan tadi dan merelakan kepergian Raden Mas Sumilir. Sejak kepergian Raden Mas Sumilir untuk kedua kalinya, masyarakat Lingsar mendapatkan berkah.

Kehidupan masyarakat semakin makmur, mata air selalu mengalir untuk mengairi sawah, panen melimpah dan suasana batin nan tentram.



Prosesi Perang Topat

Rangkaian perang topat diawali dengan berbagai persiapan. Pada malam hari sebelum perang topat dimulai, ibu-ibu dari masing-masing kubu membuat dan memasak ketupat.

Ketupat yang digunakan sebagai senjata perang topat berukuran kecil. Nampaknya sengaja dibuat demikian agar tak terasa sakit ketika mengenai lawan.

Pada pukul setengah lima sore setelah bunga waru gugur, prosesi perang topat diawali dengan menelilingi purwadaksina yang berada di kawasan bangunan Kemaliq. Prosesi ini diukuti oleh kedua umat beserta seluruh tokoh, baik dari umat Hindu Bali maupun dari umat Islam Sasak.

Berbagai kesenian ditampilan untuk mengiringi prosesi ini, seperti gendag beleq dan tarian batek baris.

Selanjutnya kedua kubu berkumpul pada masing-masing titik yang telah ditentukan. Umat Hindu berkumpul di halaman Pura Gaduh, sedangkan umat Islam berkumpul di halaman bangunan Kemaliq.



Secara simbolis saling lempar ketupat dimulai ketika tokoh yang dihormati kedua kubu melempar ketupat untuk pertama kalinya.

Perang pun pecah. Masing-masing kubu saling mengintai sasaran. Riuh tawa tak terhindarkan. Cahaya kebahagian jelas terpancar dari wajah kedua kubu yang berperang. Usai perang topat, warga akan memungut sisa-sisa ketupat untuk dibawa pulang.

Ketupat sisa perang topat akan dibuang ke sawah. Warga Lingsar percaya, ketupat sisa perang akan menyuburkan tanah mereka.

Komentar Facebook di sini