Penyaluran BLT-DD Desa Nontotera Terkesan Pilih Kasih, Anak Yatim Piatu Diabaikan

632
Suhendra Gunawan menyoroti soal BLT-DD Nontotera yang terkesan pilih kasih.

BIMA, Warta NTB – Penyaluran Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) yang dilakukan Pemerintah Desa Nontotera, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima beberapa waktu yang lalu terkesan pilih kasih dan dinilai hanya berdasarkan selera oknum tertentu.

Sebelumnya pemerintah Desa Nontotera telah menyalurkan BLT-DD kepada 30 orang kepala keluarga bahkan penyalurannya dilakukan tiga bulan sekaligus dengan bantuan yang diterima sebanyak Rp 1.800.000 per kepala keluarga.

Namun dibalik penyaluran itu terkesan pilih kasih karena masih ada warga yang kurang mampu luput dari pendataan seperti yang dialami Jumratul Aulia (25) anak yatim piatu yang hanya tinggal menumpang di rumah salah satu keluarganya di RT.01/RW.01, Desa Nontotera, Kecamatan Monta ini.

Salah satu warga Desa Nontotera Suhendra Gunawan mengatakan, seharusnya anak yatim piatu ini diprioritaskan untuk mendapat bantuan sosial baik itu bantuan pemerintah pusat, provinsi maupun daerah.

“Sepengetahuan kami anak yatim piatu ini sudah tinggal di rumah kerabatnya sejak kedua orang tuanya meninggal. Meski demikian ia memiliki kartu keluarga yang terpisah dengan orang tua asuhnya,” kata pria yang biasa dipanggil Gun ini.

Gun menyayangkan, jika alasan pemerintah desa tidak pernah mendata anak yatim piatu ini karena masuk dalam kartu keluarga orang tua asuhnya, tetapi berdasarkan penelusurannya bahwa anak yatim piatu ini memiliki KK yang terpisah dengan orang tua asuhnya.

Baca juga:

Kartu keluarga Jumratul Auliah yang terpisah dengan orang tua asuhnya, ia masih satu KK dengan saudaranya yang lain.

“Dari penelusuran kami, Jumratul memiliki kartu keluarga yang terpisah dengan orang tua asuhnya, ia masih satu KK dengan almarhum orang tuanya dan saudaranya yang lain, tetapi kenapa selama ini tidak masuk data penerima bantuan sosial, bukankah ini terkesan pilih kasih,” bebernya sembari menunjukan salinan kartu keluarga Jumratul Aulia yang ia foto.

Oleh karena itu, ia berharap pemerintah desa sebagai ujung tombak pemerintah yang memahami seluk beluk masyarakat desa agar benar-benar melakukan pendataan lapangan dan tidak hanya menerima informasi dari balik meja.

“Pendataan dan validasi data warga miskin itu harus betul-betul dilakukan di lapangan bukan menerima informasi di balik meja atau di kantor desa saja. Sehingga pemerintah desa bisa mengetahui langsung keadaan masyarakat yang sebenarnya,” ucapnya.

Baca juga:

Sementara Kepala Desa Nontotera Ahmad Jakaria yang sebelumnya dikonfirmasi terkait hal ini Jumat (29/5/2020) mengakui bahwa Jumratul Aulia adalah warganya dan merupakan anak yatim  piatu.

Alasan kenapa anak yatim piatu ini tidak mendapat bantuan, beber kades, karena selama ini ia menumpang dan masuk dalam kartu keluarga orang tua asuh tempat dia tinggal sekarang sehingga bantuan yang disalurkan langsung kepada kepala keluarga tempat ia tinggal.

“Memang betul ia adalah anak yatim piatu dan kami belum bisa bertindak karena dia numpang kartu keluarga orang tua asuhnya, makanya kami tidak memberikan bantuan secara terpisah karena kepala keluarga tempat tinggal anak yatim piatu ini mendapatkan bantuan,” ungkap kades. (WR-Uddin)