Kreatif, Pemuda Palibelo “Sulap” Sampah Botol Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi

1052
Kegiatan anggota Komunitas Coco Bola, Desa Belo, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, Selasa (11/6/2019).

Bima, Warta NTB – Sampah sering dikaitkan dengan hal-hal yang menjijikan dan tak berguna, dibuang dan dibiarkan bahkan dijauhi karena baunya yang tak sedap. Namun di tangan-tangan kreatif pemuda Palibelo sampah bisa diubah menjadi barang berharga dan bernilai jual tinggi.

Sebuah komunitas yang tergabung dalam Komunitas Coco Bola, Desa Belo, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima mulai bergerak maju dengan memanfaatkan sumber daya dan generasi muda yang ada yaitu dengan mendaur ulang sampah botol plastik menjadi barang bermanfaat dan bernilai jual tinggi yang bisa menambah penghasilan bagi anggota komunitas.

Ketua Komunitas Coco Bola, Eman Surahman, S.Sos yang ditemui Wartantb.com di workshop komunitas setempat, Selasa (11/6/2019) menuturkan, ide mengolah sampah botol plastik berawal dari keprihatinan mereka terhadap kondisi lingkungan saat ini, serta bentuk dukungan terhadap program pemerintah provinsi yaitu NTB bebas sampah (Zero Waste).

Kata dia, sebagian orang sering mengaitkan sampah sebagai pembawa masalah mulai dari banjir hingga berbagai penyakit. Namun, siapa sangka sampah dapat menjadi hal yang menguntungkan dan bernilai ekonomis jika diolah dan dimanfaatkan dengan baik.

“Lewat tangan-tangan terampil para pemuda Palibelo yang tergabung dalam Komunitas Coco Bola kami mulai mendaur ulang sampah botol plastik menjadi barang-barang berharga dan bernilai ekonomis seperti membuat bank sampah dari botol plastik, kotak pensil dan produk ekonomis lainnya,” kata dia.

Eman menuturkan, pendekatan pengolahan sampah yang mereka lakukan yaitu dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle) karena pendekatan model ini relatif mudah dilaksanakan melalui sampah rumahan. Kampanye 3R gencar dilakukan agar sampah plastik ini memiliki nilai ekonomis dan bermanfaat.

“Salah satu ide bijak untuk mengatasi masalah sampah plastik adalah dengan menggunakan plastik yang ramah lingkungan dan mengolah sampah plastik menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi,” paparnya.

Ia berharap, kesadaran terhadap lingkungan menjadi budaya, seperti perilaku membuang sampah pada tempatnya, menggunakan barang atau alat yang ramah lingkungan, maka dengan demikian gaya hidup bersih pun akan timbul dengan sendirinya.

“Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa sampah bukanlah sesuatu yang buruk dan tidak selamanya negatif. Kita bias bersahabat dengan sampah bila kita tahu cara memperlakukannya dengan baik,” ungkapnya.

Sementara sebagai nilai tambahan dan penghasilan anggota komunitas, Eman mengaku hasil kreatifitas mereka telah banyak terjual dan mendapat banyak pesanan.

”Barang-barang yang terjual sudah lumayan banyak. Barang yang dipesan kebanyakan bank sampah datang dari kalangan ibu-ibu rumah tangga dan harga jual pun relatif murah dan terjangkau,” pungkasnya (WR-Man)