Jaga Hutan Parado, Danrem 162/WB Perintahkan Dandim Buat Posko Terpadu

1218
Danrem 162/WB Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani, S.Sos. SH. M.Han.

BIMA, Warta NTB – Setelah melihat langsung kondisi kerusakan hutan di Kecamatan Parado, Kabupaten Bima, Danrem 162/WB Kolonel Czi  Ahmad Rizal Ramdhani memerintah Dandim 1608/Bima Letkol Inf Bambang Kurnia Eka Putra untuk membangun Posko Terpadu perlindungan hutan.

Danrem yang datang mendapingi Kepala BNPB RI Letjen TNI Doni Monardo di lokasi penghijauan di Dam Pela-Parado, Sabtu (21/12/2019) langsung memerintahkan Dandim 1608/Bima dan jajarannya untuk segera menghentikan aktifitas pembalakan liar dan perusakan hutan di wilayah hutan tutupan di Kecamatan Paroda.

“Dandim agar segera membuat pos jaga terpadu, tidak ada truk yang boleh turun bawa kayu, kalau ada yang bawa kayu tangkap, ada alat berat datang tangkap, proses hukum,” tegasnya.

Sekarang kita memang belum merasakan bencana akibat kerusakan hutan, nanti kalau hujannya besar bajirnya akan kemana-mana timbul korban jiwa. Untuk menangani kerusakan hutan nanti kita buat tim terpadu, saya akan lapor Kapolda dan Gubernur NTB.

“Untuk penanganan hutan Parado kita akan buat Tim Terpadu Khusus sehingga kerusakan hutan Parado bisa menjadi atensi nasional. Kalau tidak segera dibentuk tim terpadu, maka kondisinya hanya akan begi-begi saja dan masalah penggarapan lahan dan sebagainya nanti kita akan tertibkan,” jelasnya.

Sementara terkait perambahan hutan yang menjadi lokasi Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Konesia, Danrem menegasakan kepada para pelaku pembalak liar agar tidak sembarangan menggarap lahan di lokasu tersebut.

“Kalau masih ada konsesinya tidak boleh digarap, itukan ada aturannya nanti kita libatkan seluruh KPH yang ada di provinsi maupun yang ada di kabupaten dan saya minta kerjasama dari seluruh elemen masyarakat yang ada di Bima untuk menjaga hutan di Parado,” ajaknya.

Pada kesempatan itu, Danrem mengajak seluruh masyarakat agar bercocok tanam dengan tidak merusak hutan karena kerusakan hutan dapat menyebabkan berbagai bencana seperti banjir, kekeringan, tanah longsor dan lainnya.

“Kalau kita mau bercocok tanam, bercocok tanam yang baik bukan merusak hutan. Apakah perlu hutan harus ditebangi semua untuk bercocok tanam. Itukan tidak perlu. Kita bisa bercocok tanam dengan pola tumpang sari. Buktinya para leluhur kita dulu bisa hidup dengan pola tanam tumpang sari kenapa hutan harus kita gunduli semua, terus anak cucu kita nanti pakai apa,” kata Danrem.

Pria kelahiran Jakarta ini mengaku prihatin melihat kerusakan hutan di wilayah Parado lebih-lebih hutan yang menjadi penyanggah waduk Dam Pela-Parado. Bahkan akibat pembalakan liar dan perusakan hutan menyebabkan sejumlah titik mata air berkurang.

Kata Danrem, dulu saya pernah dengar katanya di sini ada air terjun, tapi sekarang airnya sudah tidak turun dan tidak menetes lagi. Nah itu karena apa? Karena hutan sudah digunduli tidak ada lagi air yang diserap oleh tumbuhan-tumbuhan.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan dengan rusaknya hutan anak cucu kita nanti hanya bisa mendengarkan cerita. Dulu di sini begini nak, dulu begini, kasihan mereka. Alam ini akan baik dengan kita kalau kita baik dengan alam. Kalau kita mencintai alam, alam akan mencintai kita,” kata Danrem.

Untuk menjaga hutan yang masih tersisa dan mengenbalikan fungsi hutan, Danrem dan jajarannya tetap berkomitmen menjaga kelestarian hutan Parado dan meminta kepada Dandim Bima agar segera membuat pos terpadu sebelum serah terima jabatan karena sebelumnnya Letkol Bambang telah menerima sprint pindah tugas ke bagian Inspektorat TNI AD.

“Nanti Dandim sebelum serah terima jabatan harus sudah membuat pos terpadu, tempatkan satgas intel di sini. Jangan ada tebang pilih, siapapun yang merusak hutan proses hukum. Kapolres nanti juga diingatkan agar jangan segan-segan menindak kalau ada yang melanggar hukum. Intinya kami akan tetap mendukung pengembalian fingsi hutan dan penghijauan hutan di Parado ini,” tegasnya. (WR)