Corona Buat Dunia Merana

166

Oleh: Muammar Kaddafi

Dunia yang tadinya bergerak dinamis, kini seolah berhenti sejenak. Gegap gempita parade pertumbuhan ekonomi global, kini berubah menjadi kidung sunyi mencekam. Dunia berhenti sejenak. Sesekali lonceng kematian berdentum menimbulkan keriuhan pertanyaan: Siapa lagi? Di mana lagi? Berapa yang kena? Berapa yang sembuh? Berapa yang meninggal?

Kini narasi dunia penuh dengan deretan angka-angka statistik kematian. Sungguh tak pernah terbayangkan oleh umat manusia, kita akan berada pada titik ini. Semenjak dilaporkan korban pertama terinfeksi Corona Virus Disease 2019 alias Covid-19 di Kota Wuhan, Provinsi Hubei China pada 17 November 2019, laju pertumbuhan dunia mulai melamban.

Awalnya, banyak orang mengira wabah ini hanya akan terkonsentrasi di Negeri Tirai Bambu, sebagaimana awal mula ditemukan kasus pertama. Berbagai gambar dan video korban berjatuhan di Wuhan beredar luas melalui sosial media. Keriuhan baru di jagad medsos sungguh tak terhindarkan.

Beragam tanggapan datang dari netizen. Kebanyakan tanggapan menyudutkan China. Sebagian munuding itu sebagai azab bagi penduduk China, karena doyan mengkonsumsi hewan liar seperti kelelawar. Hewan liar itu dianggap sebagai inang Covid-19. Bahkan ada yang mengait-ngaitkan dengan ideologi komunis yang dianut oleh rakyat China. Yah, komunis berarti ateis. Begitu pandangan umum masyarakat Indonesia.

Tak hanya netizen biasa, netizen luar biasa sekelas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pun tak mau ketinggalan. Melalui cuitan twitternya, presiden nyentrik itu menggegerkan dunia dengan menyebut Virus Corona sebagai Virus China. Pernyataan bernada rasis itu memicu kemarahan pejabat dan para ahli dari China.

Seakan semua mata yang melihat ingin mengatakan, “virus itu tak mungkin masuk ke negeri kita. Sebab kita berbeda dengan China”. Perbedaan iklim, georafis, kultur, ideologi dan juga kepercayaan memunculkan sterotip bahwa itu memang “Virus China”.

Indonesia yang beriklim tropis dan kebiasaan masyarakatnya mengkonsumsi jamu dianggap salah satu faktor kekebalan masyarakat Indonesia dari paparan virus ini. Apalagi mayoritas masyarakatnya beragama Islam, yang paling tidak membersihkan diri dengan wudhu lima kali sehari sebelum sholat.

Tapi apa yang terjadi kemudian? Setelah lebih dari 100 hari wabah corona akhirnya mengubah wajah dunia. Setidaknya, per 26 April 2020 Covid-19 telah menyebar di 185 negara di berbagai belahan dunia. Covid-19 telah menginfeksi setidaknya 3 juta orang, di mana 211 ribu orang di antaranya terbunuh. Tak pandang bulu, virus ini menyeberangi lintas batas negara, lintas suku, lintas ras dan lintas kepercayaan.

Di Negeri Paman Sam sendiri, di mana presidennya pernah “meledek” Virus China, bahkan menjadi negera paling banyak terpapar Covid-19. Per hari ini (28 April 2020), dilaporkan terdapat 190 ribu rakyat negara adidaya itu terinfeksi virus corona, lebih dari 67 ribu orang meninggal dunia.

Negara-negara hebat di belahan Benua Eropa seperti Italia, Inggris, Spanyol dan Jerman juga tak luput dari serangan corona. Negara-negara tersebut melaporkan terdapat lebih dari 20 ribu kematian akibat corona.

Di tanah air sendiri “pecah telur” pada tanggal 2 Maret 2020. Seorang ibu dan anaknya warga Depok menjadi orang pertama yang dilaporkan terinfeksi Covid-19. Peristiwa ini akhirnya merubah pandangan kita terhadap virus ini.

Bangsa yang rajin minum jamu dan wudhu ternya tak cakup mempan menangkal corona. Babak baru kini dimulai. Hingga hari ini (28 April 2020) dilaporkan terdapat lebih dari 9.511 orang di tanah air terinfeksi, 773 orang meninggal dan 1.254 orang dinyatakan sembuh.

Kerugian Global
Satu-satunya resep ampuh untuk menekan penyebaran Covid-19 adalah dengan melakukan pembatasan interaksi manusia. Keberhasilan pola karantina (lock down) wilayah yang dilakukan oleh China dalam menekan penularan virus ini menjadi rujukan negara-negara lain.

Karantina dilakukan dengan cara memerintahkan seluruh warga wilayah karantina untuk tidak keluar rumah selama masa karantina. Akses keluar masuk wilayah juga ditutup secara total, dengan perkecualian mobilitas logistik bahan makanan, kesehatan dan keamanan.

Di beberapa negara ada yang mengadopsi secara total konsep karantina China, tapi ada juga yang menerapkan secara longgar. Ketidak-siapan sejumlah negara menerapkan karantina total biasanya mempertimbangkan faktor logistik selama masa karantina. Di Indonesia sendiri baru DKI Jakarta yang diterapkan karantina total atau disebut dengan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Memang, sungguh tak pernah dibayangkan oleh umat manusia sepanjang sejarah peradaban dunia, mahluk super kecil yang bernama Covid-19 ini melumpuhkan aktivitas manusia secara global. Dan sampai hari ini, kita tak mendapatkan kepastian, kapan wabah ini akan berakhir.

Sebagaimana dirilis kompas.com, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan kerugian akibat pandemi virus corona (covid-19) akan mencapai 9 triliun dollar AS pada 2020-2021, atau setara Rp 144.000 triliun (kurs Rp 16.000 per dollar AS).

Keuntungan Global
Kita memang tak pantas menghitung untung rugi akibat wabah ini. Tapi, apa boleh buat, sesuatu yang tak terkira datang menyapa. Soal ini adalah soal kita semua. Andai kita dapat memohon, maka cukup sudah 3 juta orang terinfeksi, cukup sudah 211 ribu nyawa melayang. Namun, kenyataannya setiap detik angka semakin bertambah. Dan kita masih terus berjuang menggerahkan segala daya dan upaya untuk menghetikannya.

Salah satu imunitas diri manusia tatkala menghadapi cobaan adalah kemampuannya berjuang, sembari mengalihkan pikiran negatif menjadi pikiran positif. Setiap musibah selalu ada pemaknaan-pemaknaan pada sisi positif. Ada hikmah yang hendak dipetik. Termasuk dalam menghadapi ancaman Covid-19 ini.

Sisi positif pertama adalah semakin menguatnya solidaritas kemanusiaan seluruh warga dunia. Kehadiran Covid-19 mampu menjadi obyek sebagai musuh bersama seluruh umat manusia. Sasaran Covid-19 itu tak pandang bulu.

Ia tak peduli idiologinya kamunis, sosialis, kapitalis atau pun pancasilais. Ia juga tak mau tahu agamanya apa, sukunya apa, warga negara mana, kaya atau miskin, warna kulitnya gelap atau terang, rambutnya lurus atau keriting. Pokoknya asal manusia, itu sudah sasarannya. Mau tidak mau, suka tidak suka, manusia akhirnya bersatu melawan Covid-19.

Tak perlu repot mencari contoh. Presiden Amerika, Donald Trump yang semula pernah “ngeledek” Virus China, akhirnya memuji sikap pemerintah China yang mengirimkan sejumlah bantuan medis untuk membantu penanganan Covid-19 di negaranya.

Dalam berita yang dilansir liputan6.com, Donald Trump mengatakan, bantuan itu sebagai hal yang positif, saat ia diminta untuk mengomentari klaim bahwa China, dengan pengiriman bantuan ke luar negeri, dan “mengambil peran kepemimpinan global” dalam menangani Virus Corona COVID-19.

“Saya akan mencintai China dan negara-negara lain jika mereka memiliki persediaan tambahan, pasokan medis, untuk diberikan kepada negara lain,” ujar Trump seperti dikutip dari laman CGTN, Kamis (2/4/2020).

Apapun dalilnya, kita memang tak pernah menginginkan kehadiran Covid-19. Namun, karena Covid-19 pula mampu menghangatkan hubungan kedua negara adidaya tersebut. Tak pernah kita saksikan sebelumnya bagaimana mesranya kapitalis dan komunis. Padahal, hari-hari sebelumnya dipenuhi permusuhan akibat berebut pengaruh dan perang dagang.

Sisi positif kedua adalah dari aspek ekologis. Merujuk pada pola karantina dan pembatasan sosial dalam penangan penyebaran Covid-19, maka dapat digambarkan seolah mangsa utama Covid-19 adalah mereka yang keluar rumah. Oleh sebab itu berhentilah manusia dari aktivitas di luar rumah. Termasuk segala aktivitas pekerjaan yang berhubungan dengan eksploitasi sumber daya alam.

“Alam menginginkan istirahat sejenak,” begitu ungkapan yang sering kita dengar dari para pegiat lingkungan hidup untuk memaknai kehadiran Covid-19 ini. Polusi udara yang berasal dari cerobong asap pembakaran mesin-mesin raksasa semakin berkurang. Begitu pula kemacetan dan polusi udara yang berasal kendaraan bermotor di kota-kota besar semakin minim.

Tentu masih banyak lagi makna positif lain dari kehadiran Covid-19 ini. Semoga pemaknaan demi pemaknaan tidak berhenti sampai di sini saja. Karena hakikat syafaat yang hendak kita raih dari bencana ini adalah persatuan sejati umat manusia. Kita hidup di kulit planet yang sama. Semoga segala cobaan ini segera berlalu.